Sejarah Ukiran Jepara

Daerah Belakang Gunung konon terdapat kelompok ukir yang bertugas melayani kebutuhan ukir keluarga kerajaan. Kelompok ukir itu kemudian mengembangkan bakatnya dan tetangga sekitar ikut belajar dari mereka. Jumlah pengukir tambah banyak. Pada masa Ratu Kalinyamat kelompok mereka berkembang. Tetapi sepeninggal Ratu Kalinyamat mereka stagnan. Berkembang lagi pada masa Kartini.

RA Kartini berperan dalam perkembangan ukir furniture Jepara dengan memberikan pendampingan bagaimana membuat produk ukir yang disukai pasar. Kartini menekankan pentingnya desain. Dia mengumpulkan pengrajin ukir, memberi modal dan memasarkan produk mereka ke Batavia, Semarang dan Negeri Belanda. Dalam pengembangan desain, RA Kartini menggugah pengrajin ukir untuk berpikir tentang aspek fungsional dari produk. Sehingga mereka menerapkan ukiran kepada benda- bendamebel yang fungsional bagi rumah tangga. Pada tanggal 1 Juli 1929, Kartini mendirikan sekolah ukir bernama “Openbare Ambachtschool”.

Pemerintah Jepara mendirikan perusahaan milik komunitas “Jepara’s Houtsnijwerk En Meubelmaker”. (Local Clusters in Global Value Chains, Roos Kities Andadari), Tetapi perusahaan ini gulung tikar setelah beberapa tahun kemudian. Walaupun demikian, kemahiran ukir Jepara tidak hilang dengan gulung tikarnya lembaga tersebut. Kemahiran ukir warga Jepara diwariskan turun-temurun tanpa tergantung pada perusahaan maupun. Tetapi bukan berarti perusahaan dan sekolah tidak penting. Sekolah dan perusahaan itu pupuk bagi hobi mengukir pengrajin Jepara.