indonesia aff2012 700 prasetyo utomo Indonesia Bermodalkan Mental Baja

ANTARA/Prasetyo Utomo

Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan sepak bola di ASEAN dalam dua tahun terakhir, saya sengaja menonton seluruh partai pembuka Piala AFF 2012. Mulai dari Vietnam vs Myanmar dan Thailand vs Filipina (Sabtu, 24/11) hingga Indonesia vs Laos dan Malaysia vs Singapura (Minggu, 25/11).

 

Kejutan datang dari Singapura. Menang 3-0 atas Malaysia, permainan mereka paling berbeda dari semua kontestan di kedua grup (setidaknya di partai pertama). Gerak-gerik, rotasi pergerakan, aliran bola, serta ideologi permainan saat menyerang dan bertahan mereka sungguh modern. Padahal dua tahun lalu mereka tidak seperti itu meski materi skuat tidak jauh berbeda.

Malaysia dan Thailand juga punya permainan modern, tapi masih kalah dari Singapura.

Yang paling mencengangkan adalah Laos dan Myanmar. Kedua tim ini memperlihatkan kemampuan sepak bola yang seharusnya dan sesuai pakem. Para pemain Myanmar dan Laos dengan fasih mampu bergerak senada. Jarak antarpemain selalu terpelihara. Bila satu pemain bergerak ke depan, minimal dua rekan di dekatnya juga bergerak ke depan. Begitu seterusnya.

Semua tim memang belum menampilkan permainan terbaik mereka. Bahkan Malaysia yang kalah 0-3 pun belum tentu akan bernasib buruk. Jangan lupakan catatan di Piala AFF 2010: Malaysia mencatat grafik naik dari satu pertandingan ke pertandingan lain hingga akhirnya menjadi juara.

Bagaimana dengan Indonesia?

Masalah yang diderita Indonesia lebih kompleks. Indonesia tak bisa menurunkan tim terbaik karena masalah konyol perseteruan politik PSSI-KPSI. Para pemain langganan tim nasional tak berani berangkat karena diancam oleh klub masing-masing di bawah “yurisdiksi” KPSI. Kita berangkat ke Kuala Lumpur dengan 80 persen pemain muka baru dan hanya dua kiper (yang salah satunya sudah kena kartu merah).

Situasi ini malangnya diperparah oleh buruknya kinerja PSSI dan Badan Tim Nasional. Latih tanding, yang dibutuhkan skuat Nil Maizar untuk mencari irama dan pemantapan kerjasama tim, hanya terselenggara sedikit. Sejak Juli 2012, Indonesia hanya tujuh kali latih tanding. Padahal Vietnam, Malaysia, Singapura, Thailand, bisa 9-10 kali.

Latih tanding, yang terlihat sepele, pengaruhnya bisa terlihat dalam pertandingan sebenarnya. Beberapa contoh misalnya, Irfan Bachdim dan Bambang Pamungkas yang terlambat panas sehingga peluang emas mereka menguap. Istilah teknis sepak bola, kedua bintang tersebut belum menemukan sentuhan bola ala penyerang.

Lihat pula bagaimana gagapnya Wahyu Wijiastanto dalam bertahan. Komentator Jamie Reeves dari Star Sports mengatakan, Wahyu tak tahu cara bertahan selepas pemain Semen Padang ini mendorong salah seorang pemain Laos yang posturnya jauh lebih kecil. Padahal Wahyu bermain relatif baik selama masa latih tanding.

Secara umum, Indonesia masih sporadis dan tidak terlihat kebersamaan timnya. Siapa pun dia, para pemain tidak bisa disalahkan karena level permainan mereka tak bisa dituntut lebih. Mereka bukan pemain yang sejak kecil diasah di klub dengan kurikulum yang tepat dan benar. Mereka tidak tahu bahwa jarak dari kawan sebaiknya tidak lebih dari 5 meter.

Mereka juga tidak paham bahwa tiap kali rekan memegang bola, harus ada pemain lain yang melindungi. Mereka belum bisa menerapkan pergerakan dan permainan dengan napas zona kecil sepeti 3-A Side, 5-A Side dan seterusnya.

Tidak heran pemain Indonesia dari masa ke masa selalu melepas bola tinggi meski postur tidak memungkinkan (dan tidak ada instruksi). Ini kebiasaan di klub. Pemain Indonesia juga jarang melakukan manuver bola antar lini. Pemain belakang bingung harus mengumpan ke arah mana karena rekan-rekannya tidak banyak bergerak ke tempat yang relatif tak terkawal lawan, jaraknya pun berjauhan.

Beruntung Indonesia punya keahlian relatif lebih baik dari lawan. Andik Vermansyah dan Irfan, contohnya. Khusus di tim edisi AFF 2012 ini, stamina mereka relatif baik untuk bermain dengan tempo tinggi hingga 90 menit.

Determinasi permainan tidak mudah kendor seperti yang selalu kita lihat di masa-masa sebelumnya. Satu hal lain yang patut dipuji dari BP dan kawan-kawan adalah mental. Mereka tidak mudah terpukul jatuh dan punya semangat tinggi. Dua kali tertinggal dari tim kecil seperti Laos dan mengejarnya untuk hasil imbang bukan hal mudah. Semangat dan mental tim dengan para pemain debutan dan hanya ada 4 pemain yang pernah tampil di Piala AFF sebelumnya ini benar-benar patut diapresiasi.

Mental yang kuat adalah modal berharga dalam berperang. Namun memberinya beban tinggi justru tak berdaya guna. Ironisnya, PSSI berani memasang target juara. Target mungkin memang harus dibuat tinggi agar bisa diukur. Tetapi PSSI lupa — atau jangan-jangan tak paham — bahwa tim yang mereka kirim kali ini masih muda jam terbang dan bersiap secara minim pula.

Semoga Indonesia mengabaikan target itu. Semoga pemain kita tetap percaya diri dan bermental baja karena dua pertandingan ke depan tidak mudah. Semoga.